Demokrasi
Dalam Prespektif Islam Dan Barat
PEMBAHASAN
Demokrasi
secara harfiah identik dengan makna kedaulatan rakyat yang berarti pemerintahan
yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah (pemerintahan rakyat). Sedangkan
secara etimologis (segi bahasa) terdiri dari dua kata, berasal dari bahasa
Yunani (demos) berarti rakat (penduduk suatu tempat) dan (cratein atau cratos)
yang berarti kekuasaan atau kedaulatan.Jadi secara bahasa, Demokrasi adalah
keadaan Negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan di tangan
rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan rakyat, rakyat berkuasa,
pemerintahan rakyat, dan kekuasaan rakyat. 2 Demokrasi mempunyai arti penting
bagi masyarakat yang menggunakannya, sebab dengan demokrasi, hak masyarakat untuk
menentukan sendiri jalannya organisasi Negara dijamin. Oleh karena itu, istilah
demokrasi selalu memberikan posisi penting bagi rakyat walaupun secara
operasional implikasinya di berbagai Negara tidak selalu sama.3 Hakikat
Demokrasi sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintah
memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat baik dalam
penyelenggaraan Negara maupun pemerintahan. Kekuasaan pemerintah berada di
tangan rakyat mengandung pengertian tiga hal:
Pertama,
pemerintah dari rakyat (government of the people) people ialah pemerintahan yang berhubungan dengan
pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan
pemerintahan yang tidak sah (unlegitimate government) dimata rakyat.
Pemerintahan yang sah dan diakui berarti pemerintahan yang mendapat dukungan
dari mayoritas rakyat. Dan sebaliknya pemerintahan yang tidak sah berarrti
pemerintahan yang tidak mendapatkan dukungan dan pengakuan dari rakyat.
Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government
by people) ialah pemerintahan yang menjalankan
kekuasaanya atas nama rakyat bukan golongan atau keinginan sendiri.
Pemerintahan menjalankan kekuasaannya dibawah pengawasan rakyat.
Ketiga,pemerintahan untuk rakyat (government
for people) mengandung pengertian bahwa kekuasaan
yang diamanatkan oleh rakyat kepada pemerintah atau penguasa adalah untuk
kepentingan rakyat. Oleh karena itu,
pemerintah harus mendahulukan kepentingan rakyat diatas segalanya. Pemerintah
harus mendengar dan mengakomodasi asprisa yang diberikan oleh rakyat dan
merumuskannya dalam bentuk kebijakan-kebijakan dan menjalankan kehendak rakyat. [1]
ISU
Contoh
ISU Demokrasi Masyarakat
Birokrasi yang politis, KKN, dan berbelit-belit
Birokrasi semasa orde baru sangat politis. Setiap PNS itu Korpri dan wadah
Korpri adalah Golkar. Jadi sama saja dengan PNS itu Golkar. Ini berbahaya
karena birokrasi merupakan wilayah eksekusi kebijakan. Jika birokrasi tidak
netral, maka jika suatu saat partai lain yang memegang pucuk kebijakan, maka
dia akan sulit dalam menjalankan kebijakannya karena birokrasi yang seharusnya
menjalankan kebijakan tersebut memihak pada partai lain. Akibatnya kebijakan
tinggal kebijakan dan tidak terlaksana. Leibih parahnya, ini dapat memicu
reformasi birokrasi besar-besaran setiap kali ada pergantian kepemimpinan dan
tentunya ini bukanlah hal yang baik untuk stabilitas pemerintahan. Maka
seharusnya birokrasi itu netral.
Banyak sekali kasus KKN dalam
birokrasi. Contoh kecil adalah pungli, suap, dll. Ini menjadi bahaya laten
karena menimbulkan ketidakpercayaan yang akut dari masyarakat kepada
pemerintah. Selain itu berdampak pula pada iklim investasi. Investor tidak
berminat untuk berinvestasi karena adanya kapitalisasi birokrasi. Hal tersebut
mendorong pada birokrasi yang tidak rasional. Kinerja menjadi tidak
profesional, urusan dipersulit, dsb. Prinsip yang digunakan adalah “jika bisa
dipersulit, buat apa dipermudah”.
Liputan6.com, Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian prihatin dengan
kondisi demokrasi di Tanah Air. Terlebih pada Pilkada Serentak 2017.Dia menilai masyarakat lebih memilih mengadopsi bentuk demokrasi dari luar, ketimbang asli Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki bentuk demokrasi yang lebih membumi.
"Demokrasi liberal sekarang sepertinya. Indonesia semenjak 1998 mulai mengadopsi demokrasi barat tapi demokrasi Pancasila yang dicetuskan sendiri pendiri bangsa kita malah dilupakan," ujar Tito Karnavian, dalam semiloka Indonesia di Persimpangan antara Negara Pancasila vs Negara Agama Hotel Aryaduta, Menteng, Sabtu (8/4/2017).
Menurut dia, mulai banyak madrasah tidak lagi mengadopsi nilai-nilai Pancasila ini. Kapolri menilai, jika ingin meniru perjuangan, tirulah semangat Sumpah Pemuda.
"Sebenarnya, momennya justru, kalau saya lihat ada di Sumpah Pemuda, bukan di peristiwa 98 jika mau bangkit bersama," kata Tito.
Dia mengatakan semangat Sumpah Pemuda tidak menampilkan latar belakang seseorang. Pada saat itu, para pemuda pemudi mendeklarasikan diri sebagai satu bangsa.
"Tahun 45 Soekarno-Hatta juga mengenalkan konsep Bineka
Tinggal Ika. Saat itu mereka sudah melihat dan paham ada perbedaan tapi
dimunafikkan. Mereka mengerti itu bisa jadi faktor yang memecah belah kita,
tapi tujuannya kita bersatu. Sudah diantisipasi," ucap Kapolri.
ANALISIS
Suatu
hal yang harus diingat ialah,bahwa proses demokratisi dan penguasaan civil
society tidak dapat hanya dilakukan oleh pemrintahan atau kelompok masyarakat
tertentu.Namun, perlu kesiapan semua pihak untuk menerima dan
mengimpletasikannya. Pada zam pemrintahan Presiden Wahid sebagaimana yang telah
diungkapkan oleh Azyumardi Azra, telah mampu memberikan peluang
sebebas-bebasnya bagi pembentukan demokrasi dan civil society. Ia mengidealkan
sebuah pemerintahan yang tidak banyak pemrintah. Dengan semboyan “pemerintahan
yang baik adalah yang sedikit memerintah (the
best government is the least governemnt.) Namun, harga yang harus dibayar
(social cost) adalah diturunkannya dirinya dari kursi kepresidenan, sekaligus
semangat civil society yang diperjuangkan Wahid.[2]
KETERKAITAN
Surat al imran ayat 159
فَبِمَارَحْمَةٍمِنَاللَّهِلِنْتَلَهُمْۖوَلَوْكُنْتَفَظًّاغَلِيظَالْقَلْبِلَانْفَضُّوامِنْحَوْلِكَۖفَاعْفُعَنْهُمْوَاسْتَغْفِرْلَهُمْوَشَاوِرْهُمْفِيالْأَمْرِۖفَإِذَاعَزَمْتَفَتَوَكَّلْعَلَىاللَّهِۚإِنَّاللَّهَيُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya :”Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Surat as-syu’ara ayat 38
وَالَّذِينَاسْتَجَابُوالِرَبِّهِمْوَأَقَامُواالصَّلَاةَوَأَمْرُهُمْشُورَىٰبَيْنَهُمْوَمِمَّارَزَقْنَاهُمْيُنْفِقُونَ
Artinya :”Dan
(bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan
shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan
mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
SOLUSI
Tanggap
dan kritis akan adanya suatu permasalahan. Dengan penyimpangan-penyimpangan
yang dilakukan oleh orang-orang yang mementingkan kepribadiannya sendiri
terutama yang berkaitan dengan demokrasi. Mengajarkan pendidikan politik yng
baik dan benar kepada anak-anak sekolahan maupun masyarakat.
KESIMPULAN
Demokrasi secara harfiah identik dengan makna
kedaulatan rakyat yang berarti pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta
memerintah (pemerintahan rakyat). Sedangkan secara etimologis (segi bahasa) terdiri
dari dua kata, berasal dari bahasa Yunani (demos) berarti rakat (penduduk suatu
tempat) dan (cratein atau cratos) yang berarti kekuasaan atau kedaulatan.
3
Hakikat Demokrasi sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta
pemerintah memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat baik
dalam penyelenggaraan Negara maupun pemerintahan. Kekuasaan pemerintah berada
di tangan rakyat mengandung pengertian tiga hal:
Pertama,
pemerintah dari rakyat (government of the people)
Kedua,
pemerintahan oleh rakyat (government by people)
Ketiga,pemerintahan
untuk rakyat (government for people)
DAFTAR
PUSTAKA
Hasyim Muhammad, Tafisir Tematis Al Qur’an Dan
Masyarakat, Yogyakarta 2007